Feeds:
Posts
Comments

Jakarta, Gagasan untuk mengosongkan kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) memancing komentar dari banyak pihak, baik yang mendukung maupun menentangnya. Bagaimana dengan kolom jenis kelamin, adakah yang mempermasalahkan?

Eki (30 tahun), mengaku tidak mempermasalahkan identitasnya sebagai perempuan di KTP. Meski penampilan luarnya mirip laki-laki dengan rambut pendek dan badan tegapnya, ia tidak memungkiri bahwa secara fisik ia memiliki vagina dan payudara sebagaimana perempuan lainnya.

Namun ia tidak menyangkal, jiwa dan batinnya tidak sejalan dengan identitas kelaminnya secara fisik. Jadilah Eki seperti sekarang, berpenampilan macho, dengan celana jins dan kemeja kotak-kotak yang ‘sangat laki-laki’ saat ditemui detikHealth baru-baru ini.

“Saya priawan (pria-wanita),” demikian transgender asal Lampung ini mengidentifikasi dirinya, saat ditemui di acara Indonesian Youth Diversity Celebration 2013 yang bertempat di Hotel Ibis Mangga Dua, Jakarta Pusat, seperti ditulis pada Senin (16/12/2013).

Sejak kecil, Eki memang digelari ‘tomboy’ oleh teman-teman di lingkungannya. Namun informasi tentang transgender baru didapatnya ketika menginjak bangku kuliah. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menjadi priawan, kebalikan dari waria (wanita-pria).

Sungguhpun begitu, ia tidak merasa perlu untuk mencantumkan identitas sebagai ‘priawan’ pada kolom jenis kelamin di KTP. Agar tak bermasalah dengan urusan administrasi di pemerintahan, ia lebih memilih untuk tidak memusingkan hal itu.

“Saya tulis saja perempuan. Karena fisik saya memang perempuan,” ujarnya lagi

Pengakuan Terhadap Third Gender

Kebingungan atas identitas sekual tidak cuma dialami kaum transgender tetapi juga interseks. Contohnya pengidap sindrom klinefelter yang lahir dengan kelainan kromosom. Jika kromosom pada laki-laki normal adalah XY dan perempuan adalah XX, pengidap sindrom ini lahir dengan kromosom XXY.

Ciri-ciri yang terjadi pada pengidap sindrom klinefelter bermacam-macam. Karena kromosom mereka tidak spesifik mencirikan laki-laki atau perempuan, tidak jarang ditemukan ciri-ciri seksual yang tidak jelas. Pembesaran payudara serta testis yang mengecil adalah salah satu cirinya.

Di beberapa negara termasuk Australia, keberadaan kaum interseks dan transgender mendapat pengakuan. Tanpa pengakuan tersebut, mereka kerap menerima perlakuan diskriminatif karena sifat-sifatnya yang berbeda dari 2 jenis kelamin yang dianggap ‘normal’ yakni laki-laki dan perempuan.

Misalnya saat diperiksa di bandara, kelompok ini sering tertahan lebih lama karena penampilannya berbeda dengan jenis kelamin yang tercantum di paspornya. Demi menghargai kaum inilah, beberapa negara mengakui adanya third gender atau gender ketiga selain laki-laki dan permepuan.

Eki sendiri mengakui pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dengan identitas sesualnya yang dianggap ‘tidak normal’ oleh sebagian orang di lingkungannya. “Kamu perempuan atau laki sih? Perempuan kok dandanan dan tingkah lakunya seperti itu?” ujar Eki menirukan ucapan yang pernah dialamatkan kepadanya.

Indonesia, sejauh ini masih berkutat dengan perlu tidaknya mengisi kolom agama di KTP. Kolom jenis kelamin, untuk sementara belum ada gagasan untuk menambah pilihan selain laki-laki dan perempuan, apalagi mengosongkannya.

(vit/up)

Advertisements

http://health.detik.com/read/2012/07/19/140851/1969552/1430/hitung-tinggi-dan-berat-badan-anak-anda

Ayah ibu sibuk bekerja dan anak-anak di rumah bersama pengasuh atau pembantu rumah tangga, sepertinya sudah menjadi hal umum yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tapi hati-hati, bila Anda menyerahkan pada sembarang orang, bisa-bisa anak jadi sinetron style.

Nutrisi dan stimulasi di awal-awal kehidupan anak merupakan kunci yang berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Keduanya tak bisa dipisahkan dan harus seimbang.

“Kalau orang tua cuma ngasih nutrisi saja tanpa stimulasi, jadinya anak sinetron style, cantik ganteng tapi kalau ditanya bingung. Artinya, fully nutrition tapi otaknya kurang stimulasi,” tutur Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA (K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo/FK Unair Surabaya, dalam acara ‘Kunjungan Media ke R&D Centre Nutricia Singapore’, di Helios Building, Biopolis Street, Singapura, ditulis pada Jumat (13/12/2013).

dr Wawan menjelaskan, sel otak saling berhubungann melalui jaringan penghubung yang dinamakan sinaps. Jumlah sinaps yang terbentuk menentukan kecepatan proses berpikir si anak. Nah, sinaps-sinaps ini baru akan terbentuk saat anak mendapatkan pengalaman sensoris.

Pengalaman sensoris hanya bisa didapatkan melalui stimulasi atau rangsangan. Bila stimulasi dilakukan secara dini dan berulang-ulang, maka sinaps akan semakin kuat. Namun, bila tidak pernah mendapatkan stimulasi, sinaps akan mati untuk selamanya. ‘Use it, or lose in forever!’

“Anehnya, ibu-ibu bekerja malah justru senang kalau nelpon pengasuh lalu dijawab anaknya sedang tidur. Kalau anaknya kebanyakan tidur, artinya no experience. No experience no sinaps. Otaknya kurang stimulasi. Jangan malah senang anak kebanyakan tidur,” tegas dr Wawan.

Menurut dr Wawan, stimulasi paling dibutuhkan saat proses perkembangan otak anak sedang cepat-cepatnya, yakni di usia 0-2 tahun dan berlanjut hingga usia 6 tahun. Dimulai dari kemampuan melihat dan mendengar, dilanjutkan dengan kemampuan bahasa dan berbicara, hingga kemampuan kognitif atau kecerdasan.

Synaptogenesis bergantung pada stimulasi di periode kritis (usia 0-2 tahun). Pertama, rangsang kemampuan melihat dan mendengar anak, dengan memberinya senyum dan diajak bicara. Kemampuan melihat dan mendengar akan berlanjut ke kemampuan bicara atau bahasa.

“Anak tidak akan terlambat bicara bila tidak ada gangguan pendengaran. Kemampuan mendengar dan bahasalah yang kemudian menjadikan anak cerdas. Kalau anak kurang stimulasi ya jadinya sinetron style,” tutup dr Wawan.

(mer/up)

Jakarta, Selain motorik halus dan kasar, kecerdasan anak juga dipengaruhi kemampuan melihat, mendengar, bicara, dan berbahasa yang prosesnya dimulai sejak anak di dalam kandungan. Nah, oleh karena itu, setelah anak lahir, janganlah menjadi orang tua yang pendiam.

“Pendengaran dan penglihatan yang normal mempengaruhi kemampuan bicara dan berbahasa yang merupakan pintu gerbang kecerdasan. Setelah pendengaran dan penglihatan normal, beri input berupa kata-kata. Makanya jangan jadi orang tua yang pendiam, tapi banyak omong” papar ketua divisi tumbuh kembang RSUD Dr.Soetmomo dan FK Universitas Airlangga Surabaya, Dr dr Ahmad Suryawan, SpA(K) di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (13/12/2013).

Dokter yang akrab disapa dr Wawan ini mengatakan, di otak anak ada area yang bertindak sebagai bank untuk menyimpan kosakata yang berasal dari kata-kata sehari-hari. Kata-kata tersebut, menurut dr Wawan berasal dari omongan orang tua, pengasuh, atau orang di sekitar si anak. Ketika anak mendengar kosakata tersebut, bagian otak akan menyimpannya.

“Setiap kata yang masuk tiap hari, otak makin penuh, saat tidak bisa menampung, kata tersebut akan ditransfer ke bagian otak lain. Kalau pendengarannya normal tapi enggak ada input berupa omongan ya sama aja bohong. Kata yang disimpan di otak nggak cuma untuk komunikasi saja tapi juga untuk kecerdasan dan perilakunya,” tambah dr Wawan.

Hal itu ia sampaikan dalam Media Edukasi ‘Kemampuan Bicara-Bahasa, Awal Kecerdasan dan Perilaku Anak’ hasil kerjasama UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI dan Kalbe-Morinaga.

dr Wawan menegaskan, terutama untuk para ayah, janganlah jadi orang tua yang pelit omong. Misalnya, ketika pulang kerja ayah membelikan mainan anak, lantas si anak senang, ayah justru tidak menemani si anak bermain. Padahal ayah juga bisa memberi input dengan ia membelikan mainan pada anaknya.

“Beri tahu itu mainan apa, warnanya apa, jumlahnya berapa. Dengan begitu dia akan tahu warna, bentuk, dan angka dari mulut kita (orang tua) sendiri. Jangan lupa juga matikan HP, sehingga ada waktu bagi orang tua berinteraksi,” jelas dr Wawan.

Ia menambahkan, insiden kasar dari kasus yang sering ditangani dr Wawan, 90 persen anak mengalami gangguan bicara dan berbahasa karena ada masalah pada input yang diberikan. “Kalau begitu, caranya kita dudukkan orang tuanya, kita beri wejangan gimana memberi input yang baik dan benar,” kata dr Wawan.

(up/up)

e-JURNAL

Halaman e-jurnal ini adalah halaman dimana anda dapat mengupload jurnal anda baik bidang hukum, sosial maupun politik agar bisa diakses secara online untuk kebutuhan pengetahuan, penilaian angka kredit, dll, guna merealisasikan permintaan beberapa rekan/pembaca/pengunjung blog agar disediakan sebuah halaman yang memuat jurnal secara online.

Syarat & Ketentuan :
1. Bila anda berminat memasukkan jurnal anda disini, silahkan comment dibawah serta melakukan registrasi awal (tanpa mengirimkan jurnal) melalui email ke: e_jurnalhukumbalian@yahoo.com dengan mencantumkan sbb :
a. Nama (plus gelar bila ada)
b. Keperluan e-jurnal
c. Instansi/PErguruan tinggi tempat kerja
2. Syarat & Ketentuan lain akan diinfokan lebih lanjut ketika selesai registrasi via email.

thx & Regard

Okdwitya Karina Sari – detikSport

London – Arsenal dipastikan akan mendapat lawan yang menjadi juara grup di babak 16 Besar. Gelandang Arsenal Mikel Arteta meyakini tidak ada tim yang senang terundi dengan timnya.

Pengundian perdelapanfinal akan dilakukan pada Senin (16/12/2o13) di markas UEFA, Nyon, Swiss. Sebagai runner-up Grup F, The Gunners berpotensi berjumpa Atletico Madrid, Barcelona, Bayern Munich, Paris St. Germain, dan Real Madrid.

Di musim ini, penampilan Arsenal bisa dibilang impresif. Di Eropa sendiri, anak asuh Arsene Wenger itu cuma kalah selisih gol dari Dortmund sekaligus pernah menundukkan runner-up musim lalu itu. Arteta cs juga pernah mengalahkan Bayern 2-0 pada musim lalu.

Sementara di liga, Arsenal tengah memuncaki klasemen sementara dengan keunggulan lima poin dari seteru terdekatnya Liverpool dan Chelsea.

“Anda melihat tim-tim top yang memenangi grup mereka jadi itu akan sulit, tapi lihat saja apa yang terjadi. Aku yakin mereka tidak akan senang bermain bertemu kami, tentu saja,” sahut Arteta di situs resmi klub.

“Aku yakin kami bisa bersaing dengan tim manapun di Eropa, tapi jelas Anda membuat sulit diri Anda sendiri (ketika finis kedua di grup). Jika kami finis sebagai juara grup mungkin ceritanya akan lain, tapi kami harus bisa menghadapinya.”

“Mungkin sebelum (kompetisisi dimulai) jika Anda bilang kami akan lolos, kami akan sangat senang dengan itu. Tapi dengan posisi kami seperti ini, Anda ingin finis sebagai juara grup karena Anda tahu Anda akan bertemu dengan tim-tim yang tangguh di babak berikutnya.”

(rin/cas)

Edward Febriyatri Kusuma – detikNews

Jakarta – Seorang ABG cewek berusia 16 tahun bercerita soal fenomena ‘cabe-cabean’ di kalangan remaja. Dia mengungkapkan kebiasaan hingga perilaku para wanita muda tersebut.

ABG ini meminta dipanggil dengan inisial A. Saat diwawancara, dia sedang duduk seorang diri di sebuah minimarket cafe di kawasan Pondok Bambu, Jaktim. Berkaos ketat dan memakai celana jeans mini, dia bersedia menceritakan dunia ‘cabe-cabean’ itu kepada detikcom.

“Iya, itu mereka cewe-cewek gimana gitu, kalau dulu biasa dipanggil alay atau jablay sekarang disebut cabe-cabean,” kata A saat ditanya apa arti cabe-cabean, Rabu (12/13/2013).

Menurut A, ABG cabe-cabean kerap menonton balapan liar. Kadang mereka naik motor bertiga ke lokasi balapan.

Di Jakarta Timur, kata dia, biasanya kerap terjadi balapan liar di kawasan Kebon Nanas atau di jalanan lurus Banjir Kanal Timur (BKT). A pun sekali-kali datang ke acara tersebut.

“Ya, abis bosen aja di rumah. Sekadar nyari refreshing aja,” jawabnya.

Meski sering nonton balapan, A menegaskan bukan bagian dari cewek cabe-cabean. Dia keluar hanya untuk mencari hiburan. “Aku nggak seperti mereka ah,” imbuhnya.